Fernando: “Perjalanan Saya Selama Olimpiade Sains Nasional IPS”

Pada hari terakhir UN SD tahun 2014, Bu Dra. Mira Sari mengajak saya untuk mengikuti bimbingan belajar (bimbel) yang diselenggarakan oleh SMP Wiyata Dharma Medan sebagai langkah persiapan menghadapi Olimpiade Sains Nasional bidang IPS. Awalnya, saya bahkan tidak ada bayangan bagaimana cara menghadapi OSN IPS. Dengan penuh ketidaktahuan, saya hanya mengiyakan tawaran dari Bu Mira. Saya tidak tahu bahwa ini adalah awal dari pengalaman yang tidak terlupakan bagiku.

Setelah mengikuti perayaan dan perlombaan 17 Agustus 2014, saya pun mengikuti bimbingan belajar untuk mata pelajaran Geografi, Ekonomi, dan Sejarah dengan bahasan materi sesuai dengan silabus OSN IPS.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tibalah waktu pemilihan siswa perwakilan untuk mengikuti Olimpiade Sains tingkat Kabupaten/Kota. Tak disangka, saya yang masih kelas 7 terpilih sebagai siswa perwakilan untuk mata pelajaran IPS. Bersamaan dengan saya, Timothy sebagai siswa perwakilan untuk mata pelajaran IPA dan Hendry Winata sebagai siswa perwakilan untuk mata pelajaran Matematika. Persiapan saya tidak terlalu matang saat itu, namun saya bersama teman-teman yang terpilih tetap berangkat ke SMPN 2 untuk menghadapi soal-soal olimpiade kabupaten/kota.

Setelah mengerjakan soal-soal yang diujikan, saya merasa ragu bener-bener mampu dan pantas untuk melangkah ke tingkat provinsi. Sembari menunggu pengumuman, saya merasa pasrah dan tidak tenang. Keraguan saya pun terjawab saat pengumuman tiba. Ternyata, saya menduduki juara 5 untuk kota Medan dan Henry Winata mendapat juara 9 untuk kota Medan. Kami pun meringankan langkah untuk mewakili kota Medan pada Olimpiade Sains tingkat Provinsi.

Ternyata, tingkatan soal-soal pada Olimpiade Sains tingkat Provinsi sangat berbeda. Saya merasa ilmu yang saya dapatkan tidak dapat mengantarkan saya mendapat nilai yang cukup untuk sampai ke tingkat nasional. Saya pun merasa kecewa dan terpukul saat tidak ada nama sekolah saya tercantum sebagai perwakilan menuju ke tingkat nasional di Palu. Tanpa berkecil hati, saya pun membulatkan tekad saya agar dapat membawa kecemerlangan prestasi pada OSN 2016.

Dalam langkah saya menuju OSN 2016, saya pun menghadapi masalah. Pihak sekolah memberikan pengumuman bahwa pelantikan siswa untuk mengikuti OSN diberhentikan. Saya merasa terkejut dan berpikir bahwa saya tidak berpeluang lagi untuk meraih kesuksesan yang telah saya dambakan. Bagaimana bisa saya melangkah menuju ke OSN tanpa uluran tangan dari instansi pendidikan?

Di tengah keputusasaan tersebut, Bu Mira, Bu Sri Lestari, dan Bu Sri Windiarti terus mendukung saya dan bersedia memberikan ilmu mereka kepada saya tanpa jalur bimbel yang diselenggarakan sekolah. Saya pun kembali bersemangat dan membuktikan bahwa saya dapat mencapai kesuksesan dengan cara yang lain. Saya pun meningkatkan intensitas belajar saya.

Tanpa terasa, tibalah saatnya OSK. Tepat tanggal 5 Maret 2016, saya bersama teman saya, Rio Febrian (perwakilan Matematika), dan Lori Chandra (perwakilan IPA) berangkat ke SMPN 2 untuk kembali merebut kemenangan.

Saya merasa lebih percaya diri karena ini bukan pertama kalinya saya menghadapi model soal OSK. Lomba OSK pun selesai. Saat pengumuman tiba, saya merasa sangat terkejut. Saya mendapatkan peringkat pertama se-kota Medan dan peringkat kedua se-provinsi Sumatera Utara. Saya tidak pernah menyangka saya mendapat peringkat yang sedemikian tinggi.

Saya pun kembali diizinkan untuk berjuang menghadapi OSP 2016 yang dilaksanakan pada tanggal 8 – 9 April 2016. Saat lomba, saya sedang dalam keadaan tidak fit dan saya merasa tidak akan lolos kali ini. Namun, dukungan terbaik dari orang tua dan guru-guru dengan izin Tuhan YME, saya berhasil mengerjakan soal OSP 2016 dengan baik.

Pengumuman yang saya dapatkan melalui www.ditpsmp.kemdikbud.go.id tanggal 21 April 2016 menginformasikan bahwa saya menjadi perwakilan Sumatera Utara di OSN 2016 dengan peringkat pertama. Saya merasa sangat bahagia.

Tepat dua hari sebelum kontingen Sumatera Utara berangkat ke tempat diselenggarakannya OSN 2016, yaitu Palembang, kami diberikan pelatihan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara dengan harapan membawa medali sebanyak mungkin.

Foto bersama peserta OSN 2016 perwakilan Sumut

Sesampainya di Palembang, kontingen kami pun berpencar. Untuk mata pelajaran IPS dan matematika menginap di Hotel Arya Duta sedangkan untuk mata pelajaran IPA menginap di Hotel Batiga.

Untuk mata pelajaran IPS, saya menghadapi tes teori di SMP IGM (Indo Global Mandiri) dan tes praktik dilaksanakan di Museum Balaputradewa.

Saat pengumuman tiba, saya tidak menyangka saya berada di peringkat 22 se-Indonesia dan meraih medali perunggu. Hasil perjuangan 2 tahun saya pun terbayarkan dengan tuntas. Saya dapat meraih penghargaan ini dengan dukungan Tuhan YME, orang tua, dan segenap pihak sekolah yang mendukung.

Saya berharap pengalaman saya ini dapat menjadi inspirasi semua pembaca untuk meraih kesuksesan di bidangnya masing-masing. Terima kasih.