Rio Febrian, Juara Harapan I Lomba Membaca Puisi Perjuangan Museum Perjuangan 2016

Pada hari Rabu, 24 Agustus 2016, Museum Perjuangan mengundang sekolah-sekolah se-Sumut untuk mengikuti lomba baca puisi perjuangan. Salah satu sekolah yang diundang adalah SMP Wiyata Dharma. Untuk memenuhi undangan tersebut, sekolah mengirimkan perwakilan 5 orang, yaitu saya, Kenrick, Crystallyn Lius, Vanessa, dan Jessy Feny.

Kami pun berlatih bersama guru pembina, ibu Dra. Sumarni. Beliau sangat terampil dan melatih kami dengan sangat baik. Setiap hal detil kesalahan beliau koreksi dan perlahan-lahan kami mampu membaca puisi dengan penghayatan sempurna dan intonasi yang sesuai. Namun, tempo yang kurang teratur menjadi kendala kami. Guru pembina kami pun dengan sabar mengajarkan kami tempo pembacaan puisi yang benar. Setelah mampu memenuhi semua kriteria pembacaan puisi, kami pun siap bertanding.

Pada hari perlombaan, kami menuju lokasi pada pukul 12.00 didampingi oleh seorang guru pendamping. Kami mendapat nomor urut 96 s.d. 100. Dengan nomor keberuntungan 98, saya mengikuti perlombaan dengan baik. Setelah pembacaan puisi oleh peserta nomor urut 130 selesai, tim juri pun memberitahukan bahwa perlombaan telah selesai dan pemenang akan diumumkan keesokan harinya.

Keesokan harinya, guru pembimbing kami dihubungi oleh pihak Museum Perjuangan. Hasil percakapan telepon tersebut menyatakan bahwa saya memenangkan lomba pembacaan puisi perjuangan dengan meraih peringkat harapan 1. Saya sangat bahagia mendengar kabar baik tersebut. Saya pun bangga karena dapat memenangkan perlombaan yang diikuti oleh 205 peserta se-Sumut.

Pada perlombaan ini, terdapat 16 pemenang, yaitu 3 juara utama, 3 juara harapan, dan 10 juara siswa berbakat.

Terdapat 8 komponen penilaian saat membaca puisi dengan rentang nilai 60-100. Saya mendapat 770 poin dan keluar sebagai juara harapan I. Sedangkan, juara I, II, dan III masing-masing mendapat 781, 775, dan 771 poin.

Saya pun mendapat piala, bingkisan, dan sejumlah uang tunai.

Perjuangan sampai meraih kemenangan bukan hal seperti membalikkan telapak tangan, tetapi perlu berlatih dengan giat sampai akhirnya mencapai kemenangan yang didambakan.